GNNT – di Pasar Tradisional Mungkinkah ?

GNNT di pasar tradisional
pasar tradisional

Jika dibaca dari judulnya mungkin bagi sebagian orang yang membacanya akan merasa lucu dan ingin tertawa atau minimalnya senyumlah, bagaimana tidak? Bagaimana mungkin GNNT atau Gerakan Nasional Non Tunai diterapkan di pasar tradisional, sebuah tempat perbelanjaan yang sesuai namanya, tempat yang masih sederhana, sistem pembayaran dengan uang tunai, selalu identik dengan tempat kumuh, dan mayoritas pedagang yang berjualan adalah pedagang bermodal kecil. Dengan kondisi seperti itu, memangnya bisa GNNT diterapkan di sana? Mari kita bahas dan cari jawabannya bersama-sama.
Pasar tradisional adalah tempat perbelanjaan yang saya rasa paling populer bagi masyarakat Indonesia karena disini semua orang bisa berjualan, semua orang bisa berjualan apa saja, semua orang bisa membeli apa saja dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan berbelanja di minimarket atau super market dengan harga barang yang dijual biasanya lebih mahal. Sehingga tidak heran jika setiap harinya perputaran uang tunai di pasar tradisional bisa mencapai puluhan juta rupiah. Apalagi jika menjelang hari raya seperti Lebaran, perputaran uang tunai bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Kondisi ini juga didukung oleh kepemilikan uang tunai di masyarakat pada saat hari raya memang tinggi. Tidak heran jika menjelas hari raya Lebaran, harga-harga hampir semua bahan pokok melonjak naik, atau kita sering menyebutnya dengan inflasi.
Jadi meskipun harganya lebih murah, meskipun perputaran uang tunai tinggi, namun harga barang yang dijual di pasar tradisional sangat rawan terkena inflasi dibandingkan di supermarket karena semua jenis transaksi yang terjadi di pasar tradisional umumnya menggunakan uang tunai. Berdasarkan hokum ekonomi, ketika perputaran uang tunai atau kepemilikan masyarakat akan uang tinggi dan tidak sebanding dengan barang yang tersedia, akan terjadi inflasi. Jadi percuma saja jika perputaran uang tinggi, tapi harga barang-barang juga tinggi. Sehingga untuk mengatasi masalah tersebut, mengurangi perputaran uang tunai di pasar tradisional perlu dilakukan dan beralih ke transaksi non tunai.
Namun bagaimana mungkin transaksi non tunai bisa dilakukan di pasar tradisional? Apalagi diperlukan teknologi yang canggih dalam penerapannya. Jawabannya adalah BISA. Bagaimana bisa? Apakah Anda menganggap pendapat saya ini mustahil? Hehe mari kita bahas. Pertama yang perlu kita pahami bersama adalah transaksi non tunai tidak hanya berupa penggunaan kartu kredit atau kartu debit, melainkan banyak cara lainnya yang disebut dengan transaksi atau kegiatan non tunai. Dan yang perlu kita pahami bersama lainnya adalah tujuan utama dari Gerakan Nasional Non Tunai adalah untuk mengurangi penggunaan uang tunai dalam setiap transaksi. Dengan begitu, kita bisa melihat potensi-potensi lain yang bisa kita manfaatkan untuk menerapkan GNNT di pasar tradisional.
Pertama yang dapat dilakukan untuk mengurangi kepemilikan uang tunai si pembeli adalah dengan menabung uang pembeli di Bank. Berdasarkan teori dalam ilmu ekonomi, bahwa seseorang dengan kepemilikan uang tunai tinggi akan cenderung bernafsu untuk membelanjakan, dan begitu sebaliknya jika kepemilikan uang tunai rendah, maka kecenderungan membeli akan rendah pula. Dengan menabungkan uang pembeli di Bank, maka pembeli akan cenderung malas berbelanja dan malas mencairkan uangnya, sehingga diharapkan kepemilikan uang tunai di masyarakat akan rendah.
Kedua adalah dengan menempatkan mesin ATM di dekat pasar tradisional. Dengan demikian diharapkan pembeli tidak akan membawa uang tunai dari rumah, melainkan memanfaatkan mesin ATM tersebut. Sehingga ketika membutuhkan uang, pembeli tinggal melakukan penarikan tunai di mesin ATM terdekat. Dengan begitu, diharapkan pembeli akan menggunakan uangnya dengan bijak sesuai dengan kebutuhan dan meningkatkan keamanan uang si pembeli sendiri. Diperlukan pula kerjasama antara kebijakan pemerintah dengan pihak Bank terkait untuk melakukannya.
Ketiga adalah dengan menerapkan sistem e-parking atau tiket parkir elektronik yakni sistem pembayaran parkir menggunakan kartu khusus dengan uang elektronik sebagai pembayaran. Teknologi ini sudah umum digunakan di tempat-tempat dengan tingkat keramaian pengunjung tinggi seperti supermarket, terminal, stasiun, dan rumah sakit. Sistem pembayaran dipasang di semua pintu masuk pasar, sehingga mau tidak mau, pemiliki kendaraan perlu memiliki e-parking untuk bisa memarkir kendaraannya dan tidak perlu repot-repot lagi mencari uang receh untuk membayar parkir. Selain itu, sistem ini juga bisa mencegah potensi pungli (pungutan liar) oleh tukang parkir nakal yang mencari keuntungan sebanyak-banyak dengan cara yang tidak dapat dibenarkan. Setidaknya, dengan e-parking ini kita mengetahui kemana uang parkir kita akan pergi dan siapa yang menerimanya serta untuk apa peruntukannya.
Demikian adalah 3 peluang yang bisa dimanfaatkan dan diterapkan untuk melaksanakan GNNT di pasar tradisional. Masalah apapun bisa menjadi mungkin jika kita terus berusaha dan berpikir dari berbagai sudut pandang bagaimana mengatasi masalah tersebut. Semoga artikel ini bermanfaat dan menginspirasi pembaca.

foto: g3realtygroup

(Visited 81 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*